Beberapa hari ini, Kyai Slamet dilanda kegusaran. Ia tidak mengerti
apa yang sedang terjadi pada dirinya, akhir-akhir ini ia sering lupa pada sesuatu yang ia hafal
dan kenal sebelumnya. Untuk mengingat sesuatu, ia harus menunggu sejenak dan
berusaha dengan keras agar ia mengingat nama atau hal-hal yang ia maksud
tersebut.
Agar tidak berlarut-larut dan menjadi bebannya, Kyai Slamet pun
sowan (datang ) kepada gurunya, Ki Bagus Burhan. diruang pendopo yang tidak
terlalu besar, Kyai Slamet duduk tawadlu dihadapan gurunya dan mengutarakan
masalahnya. Ki Bagus, dengan tenang dan penuh perhatian mendengarkan Kyai
Slamet mengutarakan persoalannya. Lalu Ki Bagus bertanya “ Sejak kapan kamu
mengalami ini ? ” Kyai Slamet menjawab “ Seingat saya, tidak lama setalah baiat
Thoriqoh, mulai terbiasa melafalkan asma-asma Alloh, Awalnya lisan, lalu batin
saya mulai ikut menyebut-menyebut Nama-nama Alloh. Mulanya saya menguasai
dzikir-dzikir itu, tetapi lama-kelamaan saya rasakan dzikir-dzikir itu yang
menguasai saya. Lambat laun saya rasakan, kok sekarang saya menjadi pelupa ”.
Ki Bagus Burhan bertanya “ Maaf nak, namamu siapa ? ” Kyai Slamet tersentak “
Lho Ki Bagus ini bagaimana, saya sudah nyantri 10 tahun pada Ki Bagus, kok Ki
Bagus masih belum hafal-hafal kalau nama saya Slamet ?’ Ki Bagus menjawab “
Jangankan kamu yang baru 10 tahun ngaji padaku, Met. Dulu Syekh Abu Yazid Al
Bisthami pun juga lupanama santrinya padahal sudah belajar selama 25 tahun. Si
santri protes dengan sikap Syekh Abu Yazid, tapi apa yang dikatakan Syekh Abu
Yazid ? “Nak, ketika nama Alloh terpatri kedalam hatiku, semua nama-nama selain
nama-NYA keluar dalam hati dan ingatanku ”. Kyai Slamet melongo, ia terdiam
seribu bahasa. Ia mengingat apa yang dikatakan gurunya tersebut memang sama
persis dengan yang dialaminya. Ki Bagus berkata “ Nak, Ahli Thoriqoh itu ahli
menyebut-nyebut nama Alloh, jadi wajar
kalau ia pelupa dengan hal-hal selainNYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar