Kamis, 01 Desember 2016

Yang penting akhirnya (Gus Miek, Kediri)

Gus Miek, seorang alim yang di bungkus Alloh swt dalam kenylenehan. kebijaksanaannya sering di luar logika manusia pada umumnya karena ia melihat rahasia kehidupan dengan cahaya Tuhan. tetapi apapun bungkusnya, alim tetaplah alim. Ilmu tak bisa di tutupi kecuali oleh kebodohan. dan kebodohan itu kembar identik dengan kita, sehingga kebanyakan orang-orang seperti kita tidak bisa mengerti apa yang dilakukan Gus Miek,kecuali setelah beberapa tahun kemudian.

Suatu hari, Gus Miek pergi bersama sopirnya, Pak Baha' ke daerah Gondang legi, Malang. di terminal, Gus Miek bilang ke pak Baha',sopirnya, "Pak, kamu lihat orang itu? ".Gus Miek menunjuk seorang pemuda dengan tubuh penuh tato. Pak Baha' melihat lalu mengangguk. Gus Miek meneruskan perkataannya, "Awasi saja ia, jangan dekati ".pak Baha' ,walau sering melihat keanehan bersama Gus Miek, tak ayal juga timbul rasa penasaran di dalam hati nya tentang pemuda yang di tunjuk Gus Miek. ia mencari siapa sebenarnya pemuda itu? setelah bertanya-tanya, ternyata pemuda itu adalah bos preman di daerah tersebut. sesuai pesan Gus Miek, pak Baha' hanya mengawasi saja pemuda itu. lama kelamaan, Pak Baha' melihat pemuda itu semakin hari ada yang berubah. ia tampak sering memakai sarung. dan ternyata ia mempunyai keinginan untuk berjumpa dengan Gus Miek. setelah berjumpa dengan Gus Miek, pemuda itu menangis ingin bertaubat. lalu Gus Miek mengibaskan tangannya ke tubuh pemuda itu,seketika rontoklah semua tato di tubuh pemuda itu .

Gus Miek tahu, walau pemuda itu preman takdirnya kelak ia akan menjadi seorang yang alim.
Kita tidak pernah tahu, kelak takdir kita menjadi orang celaka atau tidak. Perhatikan dan awasi saja dirimu yang penting akhirnya itu kita selamat.
Jadi jangan kagum dengan kelebihan orang lain,jangan mencibir kekurangan orang lain!!! Yang penting itu akhirnya.
Yaa Alloh biha Yaa Alloh biha Yaa Alloh bihusnul khotimah
(Wahai Alloh, dengan berkah namaMu. Wahai Alloh berilah kami akhir yang baik)

Wallohu a'lam

Author:pari 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar